Minggu, 30 Juli 2017

Pendalaman Alkitab : Kasih Setia-Nya Tetap



Mazmur 107:1-9

Kasih Setia-Nya Tetap

107:1 Bersyukurlah 1  kepada TUHAN, j  sebab Ia baik! k  Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 107:2 Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus l  TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan, 107:3 yang dikumpulkan-Nya m  dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan. 107:4 Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, n  jalan ke kota o  tempat kediaman orang tidak mereka temukan; 107:5 mereka lapar p  dan haus, q  jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. 107:6 Maka berseru-serulah r  mereka kepada TUHAN 2  dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka. 107:7 Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, s  sehingga sampai ke kota t  tempat kediaman orang. 107:8 Biarlah mereka bersyukur u  kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, v  karena perbuatan-perbuatan-Nya w  yang ajaib terhadap anak-anak manusia, 107:9 sebab dipuaskan-Nya x  jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan. y
========================================================

Pemazmur mengatakan, "Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya" (Mzm. 107:1). Ia memulai mazmurnya dengan mengajak umat Israel bersyukur kepada Allah. Rasa syukur itu dikumandangkan bukan tanpa alasan. Dan alasannya adalah Allah itu baik. Kebaikan itu ditegaskan dengan pernyataan bahwa kasih setia Allah tidak pernah berhenti. Israel, sebagai bangsa, sekali lagi mengalami penebusan Allah (2).

Umat Israel telah dikumpulkan Allah dari negeri-negeri di mana mereka telah dibuang (3). Pengalaman hidup sebagai bangsa yang dibuang tentulah amat menyesakkan. Bagaimanapun umat Israel tidak bisa mengembangkan identitas (agama, budaya, dan politik) mereka sendiri dengan leluasa. Mereka adalah bangsa budak yang bisa diperlakukan apa saja oleh tuannya dan berada di luar perlindungan hukum. Sehingga , kepulangan umat Israel kembali ke negerinya sendiri di luar nalar manusia.

Pada kemerdekaan pertama -- kemerdekaan dari belenggu penjajahan di tanah Mesir -- umat Israel dipimpin oleh Musa. Pada kemerdekaan kedua, Allah menggunakan Koresh, Raja Negeri Persia, untuk mengizinkan umat Israel pulang ke Israel. Mereka pulang karena dekret pemimpin bukan dari kalangan sendiri. Dan kemerdekaan kedua ini memperlihatkan dengan jelas bahwa Allah tidak melupakan umat-Nya. Meski Israel berkali-kali melawan titah-Nya, kasih setia Allah tetap!

Kelihatannya pemazmur sengaja mengingatkan umat Israel akan pengembaraan nenek moyang mereka di padang belantara menuju Tanah Perjanjian. Di tengah kelaparan, kehausan, dan kecemasan, Allah senantiasa mencukupkan kebutuhan mereka dan menuntun sampai ke Kanaan. Kemerdekaan kedua sebenarnya juga merupakan pengulangan kisah tersebut. Umat Israel juga harus melalui padang belantara untuk sampai ke tanah leluhur.

Penyertaan Tuhan tetap, tak berubah, dan tidak bergantung pada sifat manusia. Sehingga pemazmur menyerukan rasa syukur atas kasih setia dan kebaikan Allah (8-9). [YM]

Jumat, 28 Juli 2017

Renungan Kristen : Awal dari Akhir



Awal Dari Akhir

“Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yesaya 53 :6).

Puncak pelayanan pengorbanan Kristus digenapi di kayu salib. Di sana, Dia menyelesaikan pelayanan-Nya di bumi untuk kepentingan kita. Semua pelayanan-Nya bagi kita adalah penting. Tetapi di kayu saliblah pekerjaan penebusan-Nya mencapai puncaknya. Di sanalah Dia mengenakan dosa-dosa kita, membayar utang kita, dan memeteraikan kehendak-Nya begitu melimpah dengan karunia kebenaran.

Jalan menuju Golgota diarahkan melalui Getsemani. Gambaran Yohanes mengenai langkah pertama dari tahap akhir perjalanan Kristus di dunia diberikan dalam ayat yang berbunyi: “Keluarlah Ia [Yesus] dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman” (Yoh. 18:1).

Ketika Ia masuk ke taman. Yesus beralih dari cahaya matahari kasih Bapa ke dalam bayangan salib. Statusnya berubah dari “pemelihara hukum” menjadi “pelanggar hukum,”  dari “sahabat Allah” menjadi “seteru Allah,” dari “sekutu”  menjadi “musuh,”  dari perantara menjadi orang yang membutuhkan perantara, dari sinar matahari kasih Allah kepada awan murka-Nya. Dia tidak hanya menyeberangi sungai Kidron, tetapi ia juga menyeberangi “jalan kebahagian:” Dia berbalik peran dari subjek pemeliharaan Bapa-Nya menjadi objek kemarahan-Nya.

Di Getsemani, dengan “keluhan-keluhan yang tidak terucapkan,” Dia menarik dosa-dosa kita kepada diri-Nya yang tidak berdosa dan dengan demikian menarik halilintar murka Allah terhadap dosa. Zakharia menggambarkan tindakan penggantian yang menakjubkan ini ketika ia menulis: “Hai pedang, bangkitlah terhadap gembala-Ku, terhadap orang-orang yang paling karib kepada-Ku!” (Za. 13:7). Ellen White memberikan ringkasan kesimpulannya ketika dia menulis: “Dosa-dosa kita ditimpakan kepada Kristus, dihukum dalam Kristus, dibawa oleh Kristus, agar kebenaran-Nya dapat diperhitungkan kepada kita” (Signs of the Times, 30 Mei 1895).

Dalam seluruh hidup-Nya Yesus menanggung kelemahan kita, memikul kesengsaraan kita, dan menderita segala penyakit kita. Tetapi sekarang di Getsemani Dia menambahkan kepada konsekuensi dosa yakni yang kemanusiaan-Nya sudah tanggung – dosa itu sendiri. Sekarang Dia tidak hanya terhitung di antara pemberontak, Ia dianggap sebagai pemberontak. Dengan demikian “Dia membayar utang yang bukan utang-Nya karena kita memiliki utang yang tidak bisa kita bayar.” Pemikiran ini lebih daripada yang lainnya, menerangi pikiran kita, menangkap hati kita, dan merangsang energi kita untuk menurut dan melayani. 

Tuhan Yesus memberkati.

Pendalaman Alkitab : Nasihat Paulus



Filemon 1:17-25

Nasihat Paulus

1:17 Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, x  terimalah dia seperti aku sendiri. 1:18 Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku y -- 1:19 aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku z  sendiri: Aku akan membayarnya--agar jangan kukatakan: "Tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!" --karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri. 1:20 Ya saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan: Hiburkanlah a  hatiku di dalam Kristus! 1:21 Dengan percaya b  kepada ketaatanmu, kutuliskan ini kepadamu. Aku tahu, lebih dari pada permintaanku ini akan kaulakukan. 1:22 Dalam pada itu bersedialah juga memberi tumpangan kepadaku, karena aku harap c  oleh doamu d  aku akan dikembalikan kepadamu.
Salam
1:23 Salam kepadamu dari Epafras, e  temanku sepenjara f  karena Kristus Yesus, 1:24 dan dari Markus, g  Aristarkhus, h  Demas i  dan Lukas, teman-teman sekerjaku. j  1:25 Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kamu! k
=====================================================

Oscar Wilde pernah mengatakan, "Setiap orang suci memiliki masa lalu dan setiap orang berdosa memiliki masa depan." Ucapannya dapat dipakai untuk menerjemahkan isi surat Paulus kepada Filemon (17-19). Dalam suratnya, Paulus ingin menjadi penengah antara Onesimus dan Filemon.

Memang ada masalah serius dalam relasi tuan dan budak. Sebagai seorang budak, Onesimus telah melarikan diri dari tuannya. Ia telah mengambil barang yang menjadi kepunyaan tuannya, Filemon. Menurut konteks saat itu, budak seperti ini sudah tidak berguna lagi dan pantas dihukum mati. Namun bagi Paulus, seorang yang melakukan kesalahan fatal di masa lalu masih dapat berubah dan berguna dalam Kristus. Keyakinan inilah yang mendorong Paulus mengambil risiko dengan cara membebankan semua kesalahan Onesimus pada dirinya. Bahkan Paulus mau membayar segala utang Onesimus kepada tuannya. Lebih dari itu, Paulus menginginkan Filemon mau menerima kembali Onesimus sebagai saudara seiman dalam Kristus (16-20).
Setiap orang pernah melakukan kesalahan atau pun kekeliruan pada masa lalunya, namun ia juga wajib diberi kesempatan untuk membangun dan menata masa depannya. Pertama, ia harus mendapat pengampunan dan penerimaan (17). Kedua, ia patut diberi kepercayaan (19). Semangat ini yang mendorong Paulus berani menjadikan reputasi dan integritas dirinya sebagai jaminan atas berbagai kerugian yang disebabkan oleh Onesimus pada masa lampau.

Sering kali kita melihat seseorang berdasarkan perbuatan masa lalunya. Lalu, kita mulai mengungkit-ungkit satu per satu kisah orang tersebut. Akibatnya, kita tidak akan bisa menerima keberadaan orang tersebut, apalagi memberinya kesempatan untuk berubah. Keteladanan yang diperlihatkan Paulus menjadi pembelajaran kita, yakni: melihat segala sesuatu dari kacamata Kristus. Karena kita adalah orang berdosa. Tetapi dalam Kristus, setiap orang mendapatkan kesempatan untuk diampuni dan diubah menjadi manusia baru. [LL]



Pengantar Kitab Ibrani
Meski hingga kini kita belum bisa memastikan identitas penulis Surat kepada Orang Ibrani ini, namun kita bisa memperkirakan bahwa penulisnya adalah seorang ahli yang mempunyai pengetahuan tentang adat istiadat Yahudi dan budaya, juga sastra, Yunani. Tampak jelas, para penerima surat sedang mengalami penganiayaan sebagai akibat dari iman mereka kepada Yesus Kristus. Dan ada kecenderungan umat percaya -- dalam rangka menghindari penyiksaan -- untuk meninggalkan iman Kristen mereka dan kembali ke agama Yahudi.

Itulah sebabnya, mengapa penulis -- yang tampaknya begitu memiliki otoritas di dalam gerejanya -- menggunakan kutipan Perjanjian Lama beserta para tokohnya yang begitu dikenal pembaca suratnya. Tujuannya memang cuma satu agar para pembaca suratnya tetap menjadi Kristen.
Surat yang juga dikutip oleh para pemimpin gereja mula-mula -- seperti Klement dari Roma dan Hermas dari Roma sebelum akhir abad pertama Masehi -- dimulai dengan "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada" (Ibr. 1:1-2). Dengan cara demikian penulis Surat Ibrani langsung menegaskan bahwa Yesus lebih unggul ketimbang para nabi Perjanjian Lama yang mereka kenal. Yesus Kristus adalah puncak penyataan Allah.

Penulis juga mengemukakan bahwa Yesus lebih mulia dari siapa pun karena melalui kematian-Nya, yang sekali untuk selama-lamanya, Ia memungkinkan manusia menerima pengampunan, hidup dalam keselamatan, dan menjadi umat Allah.

Karena itulah, setelah mengulas tentang saksi-saksi iman, penulis Surat Ibrani mendorong pembacanya untuk tetap beriman kepada Yesus Kristus. Dia menegaskan umat untuk mengejar kekudusan dan tidak menjauhkan diri dari kasih karunia Allah (lih. Ibr. 12:4-5). Ia juga mengajak umat menyenangkan hati Allah dengan menjaga bibir dan selalu memberikan bantuan (lih. Ibr. 13:15-16).

Kabar Baik 28 Juli 2017



Shalom.

Rasa ingin menang dan hebat memicu manusia kehilangan identitas diri, terjebak dalam kompetisi dunia dengan meniru suguhan media sosial dan budaya menjadi hal utama dan terutama,..... akhirnya menjadi manusia yang lain.....kasihan sekali.»IHT«

2 Korintus 3:18  Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. 

Kemuliaan adalah keberhasilan tingkat tinggi, dunia tidak pernah bisa memberikannya, yang ada hanya kepalsuan, menjadi seperti Kristus itulah kemuliaan sejati, sebab ketika kita dimuliakan segala yang fana menjadi tidak berarti lagi.

1 Petrus 1:6-7  Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan, maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. 

Apapun status kita saat ini, jangan dengar apa kata dunia, tapi dengarlah apa kata Tuhan, sebab keberhasilan dunia berbeda dengan keberhasilan surgawi.

Tuhan Yesus memberkati.

8 NASIHAT UNTUK PARA SUAMI

 8 NASIHAT UNTUK PARA SUAMI “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya...