Selasa, 07 Juli 2020

Kabar Baik 10 Juli 2020 : INGATLAH FAKIR MISKIN

Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.---Matius 19: 21.

Kalau kita benar-benar mewakili tabiat Kristus, maka setiap unsur mementingkan diri harus dibuang dari dalam jiwa. Dalam melaksanakan pekerjaan yang sudah dipercayakan-Nya kepada kita, maka kita harus menyerahkan segala sesuatu yang dapat kita hemat. Kemiskinan, dukacita dalam banyak keluarga perlu kita perhatikan, demikian juga orang yang sengsara dan menderita harus ditolong. Kita hanya mengetahui sedikit penderitaan manusia yang ada di sekeliling kita. Tetapi apabila kita mempunyai kesempatan, haruslah kita siap memberi pertolongan langsung kepada orang-orang yang sudah sangat terdesak.

Memboroskan uang dalam kemewahan berarti merampas dari fakir miskin, yang seharusnya digunakan untuk membekali mereka dengan makanan dan pakaian. Itu berarti bahwa uang yang dibelanjakan untuk memuaskan selera, kesombongan dalam berpakaian dan perabot serta perhiasan dapat digunakan untuk meringankan dukacita banyak keluarga yang melarat dan yang menderita sengsara. Para penatalayan Allah haruslah membantu orang-orang yang tidak mampu.

Perbuatan memberi, yang merupakan buah penyangkalan diri, adalah suatu keuntungan bagi pihak pemberi. Perbuatan itu mendidik kita supaya kita dapat memahami pekerjaan Dia yang dulu suka mengamalkan kebajikan, menolong orang yang menderita dan mencukupkan keperluan orang yang tidak mampu.

Memberi dengan teratur dan tetap, yang didorong oleh roh penyangkalan diri, adalah obat dari Allah untuk melawan dosa yang bagaikan kanker, yaitu sifat mementingkan diri sendiri dan sifat serakah. Allah telah menyusun rencana untuk memberi secara sistematis untuk membiayai pekerjaan-Nya dan meringankan kebutuhan orang yang sedang menderita dan yang berkekurangan. Ia telah menetapkan bahwa memberi harus menjadi suatu kebiasaan supaya dapat melawan dosa keserakahan yang berbahaya untuk menyesatkan. Memberi dengan terus-menerus sangat berfaedah melumpuhkan keserakahan yang membawa maut itu. Memberi secara teratur dimaksudkan Allah untuk menarik kekayaan orang yang serakah, sebagaimana cepatnya mereka memperoleh, dan menyerahkan itu kepada Allah, pemilik yang sesungguhnya dari segala harta kekayaan tersebut.

Pelaksanaan yang tepat dari rencana memberi dengan teratur sungguh melumpuhkan sifat serakah dan menguatkan sifat suka memberi dengan teratur. Kalau kekayaan semakin bertambah-tambah, walaupun menyebut dirinya beribadat, ia mengikatkan hatinya kepada kekayaan itu; dan semakin besar kekayaan mereka, maka makin kecil jumlah pemberian mereka ke dalam perbendaharaan Tuhan. Demikian caranya kekayaan itu mengakibatkan orang menjadi kikir, dan demikianlah pula caranya penimbunan kekayaan memupuk sifat serakah. Sifat yang buruk ini menjadi kuat oleh karena dipupuk secara aktif. Allah mengetahui bahaya yang kita hadapi, itulah sebabnya disediakan alat untuk melindungi kita dan mencegah supaya tidak binasa. Ia menuntut supaya kita giatkan memberi secara teratur, dengan demikian kebiasaan melakukan kebajikan dapat melawan daya pendorong kebiasaan untuk melakukan hal yang sebaliknya.

Tuhan Yesus memberkati.

Kabar Baik 9 Juli 2020 : INGATLAH AKAN TUHAN DALAM SURAT WASIATMU

Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.---1 Korintus 4: 2.

Mereka yang menjadi penatalayan yang setia dari harta kekayaan Allah harus mengetahui dengan tepat bagaimana keadaan usaha mereka dan sebagai orang yang bijaksana, mereka harus mempersiapkan diri kepada keadaan darurat yang bagaimanapun bentuknya. Sekiranya pintu kasihan bagi mereka ditutup dengan tiba-tiba, mereka pun tidak meninggalkan kekacauan yang begitu besar kepada orang yang berkewajiban untuk menentukan status harta kekayaan mereka.

Banyak orang yang tidak menghiraukan masalah surat wasiat ini sementara mereka masih dalam keadaan sehat. Tetapi persiapan ini harus diadakan oleh saudara kita. Mereka harus tahu keadaan keuangan mereka dan tidak boleh membiarkan usaha mereka berada dalam keadaan kusut berantakan. Mereka wajib mengatur harta milik mereka sedemikian rupa sehingga mereka dapat meninggalkannya setiap saat.

Surat-surat wasiat harus dipersiapkan sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat hukum yang berlaku. Sesudah diadakan surat wasiat itu masih dapat diperpanjang masa berlakunya untuk bertahun-tahun lamanya dan tidak ada bahayanya, walaupun sumbangan diperlukan dari waktu ke waktu sesuai dengan kebutuhan pekerjaan Tuhan. Maut bukan berarti terus datang atau satu hari lebih cepat, hai saudara-saudara, hanya karena saudara sudah mengadakan surat wasiat itu. Dalam membagi-bagikan harta kekayaan saudara kepada kaum keluargamu, buatlah suatu kepastian bahwa saudara tidak melupakan pekerjaan Allah. Saudara adalah seorang penatalayan yang menjaga harta kekayaan-Nya; dan hak-Nya wajiblah menjadi pokok pertimbangan saudara yang terutama. Istri dan anak-anak saudara sudah tentu tidak boleh dibiarkan melarat; persediaan harus diadakan bagi mereka kalau mereka kelak kekurangan. Tetapi janganlah hanya karena kebiasaan yang demikian, janganlah cantumkan daftar yang panjang dari nama-nama kaum keluarga yang tidak berkekurangan.

Janganlah ada orang yang berpendapat bahwa ia melaksanakan kemauan Kristus dalam menimbun harta kekayaan sepanjang umur hidupnya dan kemudian pada waktu ajalnya sudah hampir tiba meninggalkan warisan itu sebagian untuk persembahan amal.

Ada orang yang kikirnya menahan uang pada waktu mereka masih hidup, kemudian merasa yakin bahwa mereka dapat mengimbangi untuk menutupi kekikiran mereka selama hidupnya dengan meninggalkan sebagian dari warisannya untuk dipakai memajukan pekerjaan Tuhan. Tetapi tidak ada separuh pun yang diserahkannya secara sah akan bermanfaat bagi usaha yang dimaksudkan. Saudara-saudara yang kekasih, adalah lebih baik kamu sendiri yang menabung uangmu di Bank Surga dan jangan memercayakan penatalayananmu kepada orang lain.

Para orang tua harus sangat berhati-hati mengalihkan talenta-talenta keuangan yang sudah dipercayakan Allah kepada mereka, kecuali mereka mempunyai bukti yang dapat dipercaya bahwa anak-anak mereka menaruh perhatian, kasih dan pengabdian yang lebih besar kepada pekerjaan Allah daripada yang ada pada mereka sendiri, dan anak-anak ini akan lebih bersungguh-sungguh serta lebih giat memajukan pekerjaan Allah.

Tuhan Yesus memberkati.

Jumat, 03 Juli 2020

Kabar Baik 8 Juli 2020 : HINDARI UTANG

Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi.---Roma 13: 8.

Dunia berhak mengharapkan suatu kejujuran sejati dari orang yang mengaku diri sebagai umat Nasrani yang mengikuti ajaran Kitab Sud. Karena sikap masa bodoh seseorang untuk melunasi utangnya, sehingga semua anggota jemaat umat Allah berada dalam bahaya sebab dianggap orang yang tidak dapat dipercaya.

Semua orang yang beribadat wajiblah mengharumkan pengajaran yang mereka akui dan janganlah dibiarkan orang berkesempatan untuk mencela kebenaran karena perbuatan mereka yang tidak pantas. "Janganlah kamu berutang apa pun kepada siapa pun," kata Rasul Paulus. Buatlah tekad untuk tidak jatuh ke dalam utang. Bertaraklah terhadap keinginan hatimu, daripada jatuh ke dalam utang yang memalukan. Inilah yang menjadi laknat dalam kehidupanmu, yaitu jatuh ke dalam jurang utang. Hindarkanlah itu seperti menghindarkan penyakit cacar.

Buatlah perjanjian yang sungguh-sungguh dengan Allah, oleh berkat-Nya engkau akan melunasi utangmu, kemudian jangan berutang lagi kepada siapa pun, kalau perlu, engkau hidup dengan makan bubur dan roti. Memang mudah sekali menghidangkan makanan yang agak lezat bilamana ditambah beberapa rupiah lagi yang dikeluarkan dari persediaan kantong. Tetapi, simpanlah rupiah itu, maka akan terkumpul nanti ribuan rupiah. Ratusan rupiah yang dibelanjakan untuk membeli yang ini dan yang itu serta yang lain-lain itulah kemudian menjadi bertumpuk menjadi ribuan rupiah. Tahanlah diri sendiri, sekurang-kurangnya sementara dalam keadaan utang yang mencekam .... Janganlah bimbang, jangan kecewa atau berbalik mundur. Tahanlah selera makanmu, tabunglah uangmu kemudian lunasilah utangmu. Usahakanlah pelunasan utang itu selekas mungkin. Apabila engkau sudah dapat berdiri tegak sebagai seorang yang bebas, tidak berutang kepada siapa pun, engkau pun sudah memperoleh kemenangan yang besar yang gilang-gemilang.

Kalau ada orang yang berutang dan benar-benar tidak sanggup melunasi utangnya, mereka tidak boleh diperlakukan dengan paksa untuk bertindak di luar kemampuan mereka. Haruslah mereka diberi kesempatan yang baik dengan membebaskan diri dari utang mereka dan tidak boleh ditempatkan di mana mereka sepenuhnya tidak dapat membebaskan diri dari utang. Walaupun penagihan utang dianggap perkara yang adil, itu bukanlah belas kasihan dan kasih yang berasal dari Allah.

Ada saudara yang tidak bijaksana dengan memiliki utang yang sebenarnya dapat dicegah. Ada pula orang yang terlalu berhati-hati sehingga menggambarkan roh tidak yakin kepada Tuhan. Cara yang baik ialah dengan menarik keuntungan dari berbagai keadaan, pada suatu waktu kita dapat mengumpulkan uang sehingga pekerjaan Allah dapat dimajukan pada waktu yang sama berpegang teguh pada prinsip yang benar.

Tuhan Yesus memberkti.

Kabar Baik 7 Juli 2020 : HUKUM ALLAH DAN HARI SABAT DIBUKTIKAN KEBENARANNYA

Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan namaMu? Sebab Engkau saja yang kudus.---Wahyu 15: 4.

Sementara kata-kata dorongan kudus ini naik kepada Allah, maka awan-awan pun menyisih dan langit yang berbintang pun kelihatan, tak terkatakan kemuliaannya, yang sangat berbeda dengan langit hitam ganas di sebelah menyebelahnya. Kemuliaan kota surgawi itu terpancar dari pintu-pintu gerbang yang terbuka sedikit. Kemudian tampak di langit suatu tangan yang memegang dua loh batu yang digabung bersama. Nabi itu berkata, "Langit memberitahukan keadilan-Nya sebab Allah sendirilah hakim" (Mazmur 50: 6). Hukum yang kudus itu, kebenaran Allah, yang diumumkan dari Gunung Sinai, di tengah-tengah guntur dan nyala api, sebagai penuntun hidup, sekarang dinyatakan kepada manusia sebagai ukuran untuk penghakiman. Tangan itu membuka loh-loh batu itu, dan di sana tampaklah perintah-perintah sepuluh hukum itu, yang dituliskan, seolah-olah dengan pena api. Kata-katanya begitu jelas sehingga semua orang bisa membacanya. Ingatan pun dibangkitkan, kegelapan ketakhayulan dan bidat dihapuskan dari setiap pikiran, dan sabda Allah yang sepuluh, yang singkat, mendalam dan berkuasa itu, ditunjukkan kepada segenap penduduk dunia ini.

Tidak mungkin menggambarkan ketakutan dan keputusasaan mereka yang telah menginjak-injak tuntutan hukum Allah yang kudus. Tuhan memberikan kepada mereka hukum-Nya, agar mereka dapat membandingkan tabiat mereka dengan hukum itu, dan mengetahui kekurangan-kekurangan mereka sementara masih ada kesempatan untuk bertobat dan mengadakan pembaruan. Tetapi agar mereka memperoleh perkenanan dunia ini, mereka mengesampingkan ajaran-ajaran hukum itu dan mengajar orang-orang lain untuk melanggarnya. Mereka memaksa umat Allah untuk menajiskan Sabat-Nya. Sekarang mereka dipersalahkan oleh hukum yang mereka hinakan. Jelas sekali mereka lihat bahwa mereka tidak punya dalih. Mereka memilih siapa yang akan mereka layani dan sembah. "Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya" (Maleakhi 3: 18).

Musuh-musuh hukum Allah, mulai dari pendeta-pendeta sampai kepada yang terkecil di antara mereka, mempunyai suatu konsep kebenaran dan kewajiban baru. Terlambat mereka melihat bahwa Sabat hukum keempat adalah meterai Allah yang hidup. Terlambat mereka melihat sifat yang sebenarnya dari sabat mereka yang palsu, dan dasar yang rapuh di mana mereka membangun. Mereka mendapati bahwa mereka telah berjuang melawan Allah.

Tuhan Yesus memberkati.

Kabar Baik 6 Juli 2020 : TUHAN ADALAH PEMILIK


Sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung.---Mazmur 50: 10.

Yang menjadi dasar kejujuran dalam usaha dan keberhasilan sejati ialah pengakuan akan hak kepunyaan Allah sebagai Khalik alam semesta. Dialah Khalik, Pencipta segala sesuatu, Dia adalah pemilik yang sesungguhnya dari segala sesuatu. Kita adalah sekadar juru kunci-Nya. Segala sesuatu yang akan digunakan sesuai dengan petunjuk-Nya.

Ini adalah suatu tugas kewajiban yang dipercayakan kepada setiap umat manusia. Ini ada kaitannya dengan segenap kegiatan umat manusia. Apakah kita mengakui atau tidak, kita adalah juru kunci, yang diperlengkapi dengan bakat dan talenta oleh Allah serta ditempatkan di dunia ini untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang ditentukan oleh-Nya.

Uang bukan milik kita. Rumah, tanah, lukisan, perabot, pakaian, dan barang-barang mewah, semua itu bukan kepunyaan kita. Kita adalah musafir, kita adalah orang asing. Kita hanya diberi kuasa untuk menggunakan benda-benda itu bagi keperluan kesehatan dan kehidupan kita .... Berkat-berkat sementara itu diberikan kepada kita sekadar yang dipercayakan saja untuk membuktikan bahwa kita dapat dipercaya dengan harta kekayaan abadi. Jikalau kita bertekun dalam ujian pembuktian Allah itu, kemudian kita akan memperoleh harta kekayaan yang sungguh-sungguh dibeli itu, yang akan menjadi milik kita sendiri, yaitu kemuliaan, penghormatan, dan keabadian.

Kalau saja anggota mau menggunakan uang yang dipercayakan kepada mereka ke dalam pekerjaan Allah, yang tadinya mereka akan gunakan untuk memuaskan keinginan hati yang bersifat mementingkan diri sendiri dan untuk membiayai berhala kegemaran mereka yang tidak senonoh itu, maka mereka sudah mengumpulkan kekayaan di surga dan sudah melakukan pekerjaan yang diminta oleh Allah mereka lakukan. Tetapi sebagaimana orang kaya yang di dalam perumpamaan itu, mereka hidup dalam kemewahan. Uang yang telah dipinjamkan oleh Allah kepada mereka, yang dipercayakan untuk digunakan demi kemuliaan nama-Nya mereka boroskan. Mereka tidak berhenti memikirkan pertanggungjawaban mereka kepada Allah. Mereka tidak berhenti merenungkan bahwa tidak lama lagi akan ada hari perhitungan saat mana mereka wajib memberikan pertanggungjawaban tentang tugas mereka sebagai penatalayan.

Kita harus selalu mengingat bahwa pada hari penghukuman kelak, kita harus menghadapi catatan mengenai cara-cara kita memakai uang Allah. Telah banyak digunakan untuk kesenangan diri sendiri, memuaskan keinginan sendiri yang sebenarnya digunakan tidak membawa kebaikan yang sebenarnya, tetapi membawa celaka yang pasti. Kalau saja kita menyadari bahwa Allah adalah pemberi segala sesuatu yang baik, bahwa uang itu adalah kepunyaan-Nya, maka wajiblah kita bijaksana menggunakannya sesuai dengan kehendak- Nya yang suci. Dunia ini, adat kebiasaannya, segala modenya bukan menjadi standar kita.. Kita tidak mempunyai keinginan untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan dunia. Kita tidak membiarkan kecenderungan hati kita menguasai kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Kabar Baik 5 Juli 2020 : BAGAIMANA UANG MEMPENGARUHI ANDA?

Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah.---Kisah Para Rasul 5: 1.

Tidak perlu uang dianggap sebagai kutuk; uang mempunyai nilai yang tinggi karena kalau dipakai dengan sebaik-baiknya, itu dapat menghasilkan kebajikan yang dapat menyelamatkan jiwa, dalam memberkati orang lain yang lebih miskin dari kita. Apabila digunakan semaunya dan dengan tidak bijaksana, maka uang akan menjadi jerat bagi pemakainya. Orang yang menggunakan uang untuk memuaskan rasa sombong dan ambisinya, berarti menjadikan uang itu kutuk, bukan berkat. Uang tetap menjadi suatu ujian kecintaan. Barang siapa yang memperolehnya lebih dari kebutuhannya, haruslah ia mencari akal budi dan rahmat untuk mengendalikan hatinya sendiri dan berpikir secara wajar, supaya ia tidak berkeinginan menjadi pemboros sehingga dia dapat menjadi penatalayan yang setia, yang tidak memboroskan modal yang dipercayakan Allah kepadanya.

Apabila kita mengasihi Allah melebihi, segala sesuatu, maka segala sesuatu yang bersifat sementara akan berada pada tempat yang sewajarnya dalam kecintaan hati kita. Kalau dengan rendah hati kita mencari akal budi dan kesanggupan agar dapat menggunakan harta kekayaan Allah dengan sebaik-baiknya, kita akan menerima hikmat dari atas. Bilamana hati itu bersandar kepada kegemaran dan kecenderungannya sendiri, pikiran yang mengatakan bahwa uang dapat mendatangkan kebahagiaan tanpa kemurahan Allah, maka uang itu, bagaikan "seorang tiran, yaitu orang yang memerintah," kemudian mendapat keyakinan dan penghormatan, si pemakainya dihormati sebagai seorang ilah. Kehormatan, kebenaran, kesalehan dan keadilan dikorbankan di atas mazbahnya. Perintah Allah diabaikan, digunakanlah adat kebiasaan duniawi, yang sudah direncanakan Raja Mammon, menjadi kuasa yang sedang mengatur.

Sekiranya hukum yang diberikan Allah tetap dipelihara, sungguh berbedalah keadaan dunia dewasa ini dalam hal arti moral, rohani dan jasmani. Sifat merasa diri sangat penting tentu tidak dinyatakan seperti keadaan sekarang ini, tetapi setiap orang memikirkan dengan sungguh-sungguh kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain .... Sebaliknya yang terjadi adalah terus menindas golongan miskin di bawah tumit besi oleh golongan hartawan, gantinya pikiran dipakai untuk menyusun rencana, baik dalam hal jasmani maupun dalam masalah rohani, mereka memperoleh suatu kesempatan untuk berpikir dan berbuat dengan bebas.

Perasaan sebagai' pemilik rumah mereka sendiri mengilhami mereka suatu keinginan besar untuk mencapai keadaan yang lebih baik. Segera mereka akan mendapat keterampilan mengadakan rencana dan rancangan untuk mereka sendiri. Anak-anak mereka akan dididik untuk memupuk kebiasaan rajin dan hemat dan cara berpikir mereka pun jauh lebih besar daripada sebelumnya. Mereka akan merasa bahwa mereka adalah manusia, bukan budak, dan akan sanggup meraih kembali sebagian besar rasa hormat dan kebebasan moral mereka yang sudah lama hilang.

Tuhan Yesus memberkati.

Kabar Baik 4 Juli 2020 : PENDIDIKAN DALAM PENATALAYANAN

Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.---Lukas 12: 34.

Oh, betapa banyaknya uang yang diboroskan untuk membeli barang yang tidak berguna di rumah, untuk membeli pakaian yang serba mewah berkembang dan aneh-aneh, untuk membeli manisan permen dan barang lain yang sebenarnya tidak terlalu perlu. Hai para orang tua, ajarkanlah kepada anak-anakmu bahwa adalah suatu kesalahan menggunakan uang Allah untuk memuaskan keinginan sendiri .... Berilah dorongan kepada mereka untuk menabung uang pecahan mereka bila memungkinkan, untuk digunakan dalam pekerjaan Injil. Mereka akan mendapat banyak pengalaman melalui kebiasaan penyangkalan diri dan pelajaran yang demikian akan senantiasa mencegah mereka dari membiasakan diri untuk hidup dengan tidak bertarak.

Anak-anak dapat belajar untuk menunjukkan kasih mereka kepada Kristus dengan menyangkal diri dalam barang-barang kecil yang tidak berharga, untuk hal mana mereka akan membeli dengan menggunakan banyak uang. Dalam setiap keluarga usaha ini harus diadakan. Hal ini memerlukan taktik dan cara, tetapi itulah pendidikan yang terbaik yang dapat diperoleh anak-anak. Seandainya semua anak kecil mau memberikan persembahan mereka kepada Tuhan, maka pemberian mereka akan seperti sungai kecil yang apabila dipersatukan dan dialirkan akan menjadi seperti sungai yang besar.

Tempatkanlah sebuah kotak uang kecil di suatu tempat yang dapat dilihat, di mana anak-anak dapat menaruh persembahan mereka untuk Tuhan .... Demikianlah mereka dididik untuk Allah.

Bukan saja Allah menuntut persepuluhan itu hak-Nya, tetapi juga memberitahukan kepada kita bagaimana persepuluhan itu diasingkan untuk-Nya. Dia berkata, "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu" (Ams. 3: 9). Hal ini bukan mengajar kita jangan dulu membelanjakan uang kita untuk kepentingan kita sendiri lalu membawa sisanya kepada Tuhan, biarpun dalam keadaan yang sebaliknya uang yang kita serahkan itu adalah persepuluhan yang diberikan dengan jujur. Biarlah terlebih dulu diasingkan milik Allah itu. Petunjuk yang diberikan oleh Roh Kudus melalui Rasul Paulus mengenai pemberian mengandung suatu prinsip yang berkenan dengan persepuluhan juga. "Pada setiap hari pertama dari tiap-tiap minggu, hendaklah kamu masing-masing menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah'' (1 Kor. 16: 2). Para orang tua dan anak- anak, semua termasuk dalam rencana ini.

Warisan yang terbaik yang dapat ditinggalkan oleh para orang tua untuk anak-anak mereka ialah pengetahuan tentang pekerjaan yang bermanfaat dan teladan kehidupan yang diwarnai sifat-sifat suka memberi dengan teratur yang tidak mementingkan diri sendiri. Dengan kehidupan yang demikian mereka menunjukkan nilai uang yang sesungguhnya, uang itu dapat dihargai hanya atas kebaikan yang dapat didatangkannya dalam meringankan kebutuhan mereka sendiri dan kebutuhan orang lain, dan dalam memajukan pekerjaan Allah.

Tuhan Yesus memberkati.

8 NASIHAT UNTUK PARA SUAMI

 8 NASIHAT UNTUK PARA SUAMI “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya...