Jumat, 21 November 2014

TEMPE GOSONG



TEMPE GOSONG

Saat ibunya sakit, May yang bertugas untuk menggantikan pekerjaan rumah. Mulai dari memasak, mencuci, menyapu, hingga memandikan kedua adiknya. Kebetulan ayah May sedang bekerja di luar kota dan akan pulang sebulan dua kali.

Wanita yang selama ini dipanggil ibu oleh May, adalah ibu tiri di mana ibu kandungnya telah meninggal saat May berumur 3 tahun. Siang itu kawan May sedang berkunjung ke rumahnya, Molly namanya. Molly melihat May begitu cekatan mengurus pekerjaan rumah.



Karena sibuk, tempe yang digoreng oleh May gosong. Molly pun ketakutan ketika menemani May mengantarkan sepiring nasi beserta sepotong tempe gosong ke kamar ibunya. Molly berpikir bahwa seorang ibu tiri adalah jahat yang senang memarahi anak tirinya.

Molly terkejut ketika ibu May mulai memakan nasi dan tempe gosong itu dengan tersenyum. Molly pun memberanikan diri untuk bertanya ketika May sedang membereskan dapur.

"Tante tidak marah kepada May?"

"Marah kenapa?"

"May menggoreng tempe gosong, biasanya orang dewasa akan marah."

"Tante tidak marah. Tante menghargai apa yang sudah dikerjakan oleh May. May sudah bekerja keras selama tante sakit dan tante sangat bangga padanya."

Dalam sepotong tempe gosong itu ada kasih dan kerja keras. Demikian juga dalam kehidupan kita, mungkin kita sudah melakukan hal yang terbaik namun hasilnya tidak maksimal. Tuhan tahu seberapa besar usaha kita dan Tuhan menghargai apa yang kita perbuat.

Manusia boleh menghina hasil akhir kita, namun Tuhan menghargai dengan mahal proses yang kita lalui. Jangan pernah takut untuk melakukan sesuatu. Jangan pernah takut untuk mencoba hal baru karena disitulah dirimu akan dibentuk untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. (fr.NanaLiur)

* * * * *

Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu! (2 Tawarikh 15:7)

Jumat, 07 November 2014

HADIAH YANG TAK TERNILAI




HADIAH YANG TAK TERNILAI
Irene (Seida) Carlson

Saya suka memberi hadiah maupun sebaliknya menerimanya; karena selalu ada keceriaan saat membukanya. Suatu hari cucu laki-laki saya Justin mengirimkan uang enam dollah tiga puluh sen kepada saya.

Saya tidak bisa menemukan suatu alasan yang tepat mengapa Justin mengirimi saya uang sejumlah itu. Saya memikirkannya berhari-hari sampai akhirnya saya putuskan untuk menelpon langsung cucu saya Justin.

Dalam telpon saya bertanya, "Mengapa kamu mengirimi nenek uang enam dollar tiga puluh sen?"

Justin menjawab bahwa saya selalu melakukan hal-hal yang baik untuknya, jadi dia ingin memberikan semua yang dia punya - yaitu enam dollar tiga puluh sen.

Setelah menutup telpon, nenek tua ini hanya bisa terduduk dan tak kuasa menahan air mata haru yang membanjir. Saya merasa dalam hati bahwa saya tidak akan menerima hadiah seperti ini lagi - yang berasal dari hati seorang anak yang tulus dan kasih yang murni.

* * * * *

Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka (Lukas 6:31)

CELANA YANG BASAH



CELANA YANG BASAH

Doni, seorang anak laki-laki kecil berusia 9 tahun, sedang duduk di bangku kelasnya ketika tiba-tiba celananya menjadi basah dan sebuah genangan air ada di antara kakinya. Doni berpikir jantungnya akan berhenti karena dia tidak pernah membayangkan hal ini. Sebelumnya dia belum pernah mengompol dan dia tahu jika teman-temannya tahu dia akan menjadi bahan ejekan teman-temannya seumur hidupnya.

Menyadari keadaannya, Doni mulai menundukkan kepalanya dan berdoa kepada Tuhan,"Tuhan Yesus, sekarang aku berada dalam keadaan darurat. Aku memerlukan bantuan-Mu karena lima menit dari sekarang aku akan menjadi bahan tertawaan teman-temanku. Amin."

Setelah selesai berdoa, dia mengangkat mukanya dan melihat ibu guru sedang memperhatikannya. Ketika bu guru mulai mendekatinya, seorang temannya yang bernama Susie membawa sebuah akuarium ikan emas bulat yang berisi air. Susie berjalan di depan bu guru dan secara sengaja menumpahkannya di atas pangkuan Doni. Doni menjadi marah meskipun dalam hatinya dia berteriak,"Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Tuhan!"

Dengan sekejap hal yang harusnya memalukan berubah menjadi simpati. Bu guru segera mengangkatnya dan memberinya celana yang lain sementara celana basahnya dijemur. Teman-temannya bersama mulai mengepel lantai di bawah bangkunya. Sebuah simpati yang luar biasa, bukan? Namun ejekan yang harusnya diterima Doni justru diterima oleh Susie.

Ketika Susie mencoba untuk membantu, namun teman-temannya justru menyuruhnya keluar sambil berkata,"Kamu tidak usah membantu, dasar bodoh!"

Suatu hari, ketika mereka bersama-sama menunggu bis jemputan, Doni mendekati Susie dan berkata,"Kamu sengaja melakukannya, bukan?" dan Susie membalas dengan berkata," Aku juga pernah mengompol di kelas kok." (fw.antonio.rynld.mnsm/pds.kr)

---

Di kayu salib, Tuhan Yesus juga sudah mengambil semua penghinaan yang harusnya kita tanggung dan memberi kita kasih karunia yang besar. Tuhan yang turut merasakan penderitaan kita sehingga Dia mampu menolong kehidupan kita.

* * * * *

"Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah." (Yesaya 53:4)

Senin, 27 Oktober 2014

Renungan : Menulis Surat ke Surga

MENULIS SURAT KE SURGA

Di sebuah kota kecil di Inggris, ada seorang pegawai kantor pos yang bernama Fleter. Dia adalah seorang pengantar surat yang handal, semua surat yang alamatnya kurang jelas atau tulisannya yang kabur begitu berada di tangannya, tidak ada sepucuk surat pun yang tidak tepat sasaran. Surat yang seharusnya berstatus mati (harus dikirim kembali ke pengirim) pun dapat menjadi surat hidup.



Setiap hari Fleter selalu pulang ke rumah dengan kegembiraan dan bertutur pada istrinya tentang penemuan barunya. Sehabis makan malam dia selalu menggandeng anak lelaki dan perempuannya ke halaman depan rumah untuk mendongeng. Begitu cerianya dia bagaikan seorang detektif yang ulung.

Akan tetapi pada suatu hari yang naas, anak lelakinya jatuh sakit, ia dilarikan ke rumah sakit untuk diselamatkan, namun tidak berhasil dan akhirnya meninggal dunia.

Sejak kejadian itu jiwa Fleter juga ikut mati, setiap hari dia pagi-pagi bangun dari tidur, bagaikan orang yang mimpi tidur berjalan pergi ke kantor, dia bekerja sambil membisu, sepulang dari kantor setibanya di rumah ia juga makan dengan bungkam seribu bahasa, dan ia selalu berada di atas ranjang saat hari masih sore. Hanya istrinya yang mengetahui bahwa setiap malam dilewati Fleter dengan hanya memandangi langit-langit, segala hiburan dan nasehat dari sanak keluarga tidak berguna sama sekali.

Hari Natal sudah dekat, suasana kegembiraan di sekitarnya masih tidak bisa mengurangi kepedihan dari keluarga ini. Anak perempuan Fleter yang bernama Maria bersama adiknya sungguh mendambakan tibanya hari besar ini, akan tetapi sekarang ia sudah tidak lagi mendambakannya, dia juga tidak ingin melewati hari besar itu lagi karena dia tahu di hari besar itu ayahnya akan lebih merindukan adiknya, dan akan lebih sedih.

Hari ini Fleter sedang di depan meja kerjanya memilah-milah surat, dia memungut sepucuk surat yang beramplop warna biru tua. Tertulis di situ dengan beberapa huruf besar : “Kirim ke Surga --- Kepada Nenek”. Saat itu dia berpikir, ini pastilah bukan sembarang orang yang mampu mengirim surat ini, meskipun Detektif Polo dari Belgia didatangkan kesini pun pasti akan kehabisan akal. Fleter menggeleng-gelengkan kepala sambil berpikir hendak mengesampingkan surat itu. Kemudian ia berpikir, tidak masalah jika dibuka untuk dilihat, mungkin ia bisa membantu. Lalu ia buka surat itu dan tulisan di dalamnya :

Nenek yang tercinta,
Adik telah meninggal dunia. Aku bersama ayah dan ibu sangat sedih. Ibu bilang, orang baik jika meninggal akan masuk surga, adik sekarang sedang bersama dengan Nenek di surga, apakah dia ada mainan? Kuda-kuda kayu adikku tidak berani aku tunggangi lagi, aku juga tidak bermain mainan balok kayu lagi, aku khawatir kalau sampai mainan-mainan itu terlihat oleh ayah, ayah akan bersedih hati. Ayah sekarang ini, tidak pernah berbicara lagi. Aku senang mendengar dongeng ayah, tapi ayah tidak pernah mau bercerita lagi. Ada suatu waktu ibu menasehati ayah untuk tidak terlalu bersedih, ayah bilang, sekarang ini hanya Tuhan-lah yang mampu menolong diri-nya. Nek, dimana Tuhan berada? Aku harus menemuiNya, aku ingin memohon kepadaNya untuk menolong ayahku keluar dari kepedihan ini, agar ayah berbahagia lagi, agar ayah mau berbicara dan bercerita lagi.
Cucumu, Maria.

Hari itu, pulang dari kantor, lampu jalanan sudah menyala. Fleter dengan langkah cepat pulang ke rumah, dia sudah tidak lagi memperhatikan bayangan dirinya berjalan, yang sebentar di depan, lalu menjadi di belakang, karena dia sudah berjalan dengan kepala tegak menatap ke depan. Dia menginjakkan kaki di atas tangga teras di depan pintu rumahnya, dan masuk ke rumah.

Dia tertawa seperti dulu terhadap istri dan anak perempuannya yang menyambut kedatangannya, pelan-pelan tersenyum, dan suasana kehangatan yang telah lama tidak mereka jumpai itu pun muncul kembali. (yth.HS)

* * * * *

Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui. (Yeremia 33:3)
 

I Salam,
Komunitas Kasih Anggur Baru
Jln. Kesehatan Gg. Sentosa #7 Kota Dumai

( : 0821-72287474  Twitter : @KomunitasKasih

Gerakan Sentuhan Kasih Natal 2014 - Gerakan Adopsi Sepatu Sekolah

Subject: Mohon Bantuan : Gerakan Sentuhan Kasih Natal 2014 - Shoes/Bag Adoption

Salam dalam Kasih Kristus, Tuhan kita.

Kiranya kasih karunia Kristus Yesus selalu menyertai Sdr/I sekalian.

Berawal dari beberapa kali pelayanan  yang kami lakukan bersama  di Desa Bangko Pusako dan Desa Seremban Jaya Kab. Rohan Hilir – Riau kami melihat beberapa dari anak sekolah minggu dan remaja disana masih banyak yang berkekurangan dan  membutuhkan bantuan yang pada kesempatan ini membutuhkan alat-alat penunjang sekolah yaitu sepatu sekolah dan tas sekolah. Maka kami tergerak untuk melakukan pendataan anak-anak yang sangat membutuhkan bantuan ini, dan kami menemui ada sebanyak 89 anak sekolah dari berbagai gereja yang membutuhkan bantuan.

Berikut data-data mereka :

Dengan segala kerendahan hati kami memohon Bapak dan Ibu, Saudara/I terkasih dalam Kristus untuk dapat mengulurkan tangan untuk membantu anak-anak ini dengan cara mengadopsi 1 orang anak atau lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Kegiatan “Gerakan Sentuhan Kasih” season ke-3 ini juga kami lakukan dalam  rangka memperingati hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus (Natal) berbagi kasih. Kegiatan ini  juga kami laksanakan bekerjasama dengan Pdt. Guntar Sihombing, STh dan Pdt. CH. Sihombing, STh sebagai gembala Jemaat.

"Alangkah baiknya bantuanmu kepada yang tidak kuat,  dan pertolonganmu kepada lengan yang tidak berdaya!  Ayub 26:2

Spesifikasi sepatu sekolah :
1.       Warna Hitam
2.       Merk Ardiles, ATT atau sejenisnya
3.       Harga sekitar Rp. 150.000
 Spesifikasi Tas Sekolah :
1.       Warna bebas
2.       Merk JJ atau Sejenisnya
3.       Harga sekitar Rp. 140.000


Contact Person :
Ibu Lisma Jonita Rajagukguk, Dip.Th  - HP 0813-65245004
Bapak L. Hutagalung - HP  0821-72287474
Ibu Imelda Manurung – HP 0812-6539754

Alamat : Jln. Kesehatan Gg. Sentosa No. 7 Kota Dumai.

Rekening Bank :
Mandiri : 108-001-162 5564
B C A : 808-5044-032
An. Lambok Hutagalung

Terimakasih dan Tuhan Yesus memberkati Bapak/Ibu dan Sdr/I sekalian.

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!  .......  jerih payahmu tidak sia-sia”

1 Kor 15:58

Minggu, 03 Agustus 2014

Kabar Baik 3 Agustus 2014



Shalom.

Matahari yang melembutkan lilin ialah matahari sama yang mengeraskan tanah liat »NN«

Ibrani 2:1 "Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus."

Jangan berpikir bahwa hanya dengan pergi ke gereja dan melakukan sedikit ritual keagamaan akan membawa kita lebih dekat pada Allah.

Padahal dalam kenyataannya tempat yang paling mudah ditemukan hati yang keras justru di dalam gereja, memang ada yang diubahkan, tapi ada pula yang hatinya malah mengeras karena mereka tidak datang untuk menerapkan Firman Tuhan dalam kehidupannya.

Kita bisa melihat mujizat dan mendengar kebenaran, tetapi jika kita tidak memiliki hasrat untuk menerapkannya, maka hati kita bisa dikeraskan.

Jangan menjalani kehidupan ganda seperti Yudas Iskariot yang mengalami proses dimana hatinya kian hari kian mengeras, padahal Yudas berjalan, berbicara dan mendengar kotbah Yesus selama 3,5 tahun, melihat mujizat, lazarus bangkit, orang buta melek, tuli mendengar, namun hatinya malah semakin keras.

Jangan berpikir setelah beribadah kita jadi orang merdeka, semuanya terserah Tuhan, padahal kita punya tanggung jawab untuk menerapkan seluruh Firman Tuhan yang kita dengar dengan tepat.

Ibadah bukan sebuah tradisi, melainkan sebuah kerinduan untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan agar hati kita semakin dilembutkan dan dipulihkan. 

Selamat beribadah dan melayani Tuhan! Tuhan Yesus memberkati.

@LGHutagalung

8 NASIHAT UNTUK PARA SUAMI

 8 NASIHAT UNTUK PARA SUAMI “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya...